Kisah Sang Jenderal Tolak Brevet Kehormatan, Tapi Ikuti Langsung Pendidikan Kopassus

wp-1507411609621..jpgKisah Sang Jenderal Tolak Brevet Kehormatan, Tapi Ikuti Langsung Pendidikan Kopassus

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo punya kisah menarik terkait keberhasilannya menjadi anggota Kopassus. Dia mendapatkannya ketika berusia 55 tahun, saat sudah berpangkat jenderal. Menolak brevet kehormatan yang bisa dengan mudah didapatkannya, dia memilih jalan terjal yang sesungguhnya.

Peristiwa itu terjadi pada kurun pertengahan 2014, tak lama setelah Gatot menjabat Kepala Staf Angkatan Darat. Sebagai jenderal bintang empat di Angkatan Darat, Gatot berhak mendapatkan brevet kehormatan dari Kopassus. Kopassus merupakan korps elite milik TNI AD, yang setiap anggotanya harus melewati seleksi sangat ketat. Adapun Gatot semasa prajurit merupakan anggota infanteri baret hijau Kostrad.

wp-1507411446268..jpg“Panglima TNI Gatot Nurmantyo saat menjabat KSAD sebenarnya mendapatkan brevet kehormatan Kopassus, brevet komando setiap pejabat kepala Angkatan Darat,” kata Kepala Penerangan Kopassus Letkol Joko saat ditemui di kompleks Kopassus, Jalan RA Fadillah Raya, Cijantung, Psasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (26/7/2017).

Joko mengatakan pada dasarnya seorang KSAD akan secara otomatis mendapatkan brevet sebagai tanda penghargaan. Tapi Gatot memilih mendapatkan brevet dengan jalan meraih dengan usaha sendiri. “KSAD saat itu, Panglima Jenderal Gatot Nurmantyo, dia nggak mau menerima begitu saja brevet Kopassus sebagai warga kehormatan. Beliau ingin brevet yang ditempuh itu harus dilaksanakan,” ucap dia.

Gatot pun mengikuti latihan pendidikan komando bersama prajurit lainnya. Laiknya seorang siswa, Gatot mengikuti kegiatan latihan bersama peserta lain. Dia mengatakan beragam kegiatan latihan dilakukan Gatot. Pendidikan itu dilakukan selama sekitar tiga minggu dari waktu yang semestinya selama tujuh bulan. “Jadi Sang Jenderal bangun pagi jam 02.00 WIB, senam senapan, berendam di air, kemudian jalan, kemudian naik perahu itu mendayung itu terus, selama beberapa waktu itu mungkin sekitar dua minggu atau tiga minggu

Sang Jenderal mengikuti semua prosedur normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan baret di pantai Cilacap. Untuk itu, ia harus melalui ujian yang keras, antara lain senam jam 2 pagi, lalu direndam di kolam suci Kopassus di Batujajar. Kemudian longmarch, hingga berenang militer selama lebih 2 jam dari pantai Cilacap ke pulau Nusakambangan. Bahkan Gatot juga mengikuti pendidikan Sandi Yudha yang salah satu ujiannya harus menyusup masuk ke suatu tempat yang terkunci dan dikawal ketat oleh prajurit Kopassus. Ia lolos mulus.

Gatot akhirnya diyatakan lulus semua tahapan dan resmi diangkat menjadi keluarga besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap, Jawa Tengah, pada 2 September 2014. Tidak seperti “brevet kehormatan” Kopassus yang disematkan di dada sebelah kiri penerimanya, brevet pasukan komando tersebut disematkan di dada sebelah kanan Gatot, sebagai tanda ia menerimanya melalui prosedur selayaknya yang harus dilalui setiap prajurit Kopassus.

Setelah resmi menjadi prajurit Kopassus, Gatot naik helikopter dari Cilacap ke Kartosuro (Markas Grup 2 Kopassus). Masih berbaret merah, pakai loreng, darah mengalir, masih pakai hitam-hitam samaran dan masih bau lumpur, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya di Solo. Di depan makam kedua orang tuanya itu ia memberi hormat dan menyampaikan, ”Ibu saya sudah menunaikan tugas.” Dan itu terjadi saat Gatot berusia 55 tahun. Luar biasa . .

Sumber: kompas, forum keadilan dan sumber lainnya


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s